Organisasi

Dua Event Selisih Satu Hari, Siapa Takut?

Menjalankan kewajiban sebagai seorang aktivis dalam organisasi bukanlah hal yang mudah dilakukan. Apalagi mengikuti lima organisasi sekaligus, menjadikan saya harus pandai membagi waktu. Organisasi yang saya ikuti adalah Rohani Islam (Rohis), Ambalan Diponegoro—Cut Nyak Dien, Pramuka Teritorial Ungaran, Satuan Karya Pramuka Widya Budaya Bakti, dan Organisasi Remaja RT 2. Bisa dibayangkan, kan, bagaimana sibuknya saya.

Semua organisasi itu saya lakoni dengan porsi sesuai peran dan status saya di dalamnya. Terkadang, tidak semua rapat dapat saya hadiri. Tidak jarang pula saya menolak membantu teman-teman. Bukan karena saya tidak mau, tetapi karena saya tidak mampu. Tetapi, dibalik itu semua, saya tetap berusaha adil dan seimbang, bergantian dari satu organisasi ke organisasi yang lain, serta sekolah saya tentunya. Saya sempat menomorsekiankan urusan sekolah, karena hal itu dilakukan oleh semua siswa yang bersekolah di SMA saya. Sehingga saya lebih memilih melakukan hal yang tidak dilakukan banyak orang.

Hingga pada suatu waktu, dua organisasi saya menyelenggarakan perlombaan dalam bidang yang berbeda. Hal itu bukan menjadi masalah, bukan? Tentu saja, peeps. Tapi, bagaimana jika tanggal pelaksanaan kedua event tersebut hanya terpaut satu hari? Cemas? Hahaha, itulah yang saya rasakan ketika itu. Dan kebetulan dalam dua kepanitiaan tersebut saya diamanahi menjadi sekretaris dan sekretaris. Ya, peran yang sama dalam dua event yang terpaut satu hari. Tenang dulu, saya hanya menjadi sekretaris II dalam kedua event tersebut dan saya sedikit lega. Eitss, tapi saya salah. Dalam Galang Serasi Manunggal (Pramuka Teritorial), sekretaris I-nya sedang menjalankan PKL di SMK-nya. Dan dalam One Day Islamic Competition (Rohis), sekretaris I-nya adalah seorang santri pondok pesantren yang akan susah sekali kami hubungi. Terpaksalah saya menjadi sekretaris utama dalam kedua event tersebut.

Slide5

Proposal kedua event tersebut harus saya selesaikan pada minggu ketiga bulan November. Dimana pada saat itu, kebetulan kembali terjadi. Saya diharuskan mengikuti Perkemahan Bakti Nasional Saka Widya Budaya Bakti di Bangka Belitung. Dan parahnya lagi, minggu itu adalah minggu terakhir pembelajaran efektif di sekolah saya, karena minggu depannya akan diadakan Penilaian Akhir Semester I. Pada minggu itu pasti akan diadakan banyak ulangan di berbagai mapel dan saya tidak dapat mengikutinya. Tetapi, semua saya lewati dengan bahagia dan insya Allah ikhlas. Bahkan, saya membawa laptop ke Bangka Belitung, berharap bisa menyicil pembuatan proposal saat sedang beristirahat. Namun kenyataannya, sehari berkegiatan membuat saya langsung tertidur setelah sampai di tenda. Perkemahan di Pulau Bangka itu sangat menyenangkan karena saya bertemu dengan banyak teman baru dari seluruh Indonesia.

Kembali dari Perkemahan Bakti Nasional, saya merasa perlu bekerja sangat keras untuk membuat proposal dan surat-surat terkait event tersebut. Setiap hari saya membawa laptop ke sekolah untuk membuat surat. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, saya selalu membuka laptop saya dan membuat surat untuk GSM dan ODIC. Alhamdulillah, bapak ibu guru dapat maklum dan banyak yang tidak menyadari kalau saya sedang bekerja untuk organisasi. Sering sekali saya mendapat perintah membuat surat dadakan dan harus selesai pada hari itu juga sehingga mengharuskan saya bekerja dengan cepat. Untungnya saya juga sering menulis cerita, sehingga keyboard sudah bersahabat dengan jari saya.

Dua bulan saya lalui dengan hidup bersama surat-surat. Banyak membolos pelajaran, tidur larut malam, terlambat mengerjakan tugas, mengikuti ulangan susulan, dan sering tidak belajar saat akan ulangan. Saat pembagian rapor, nilai saya cukup memuaskan bila dibandingkan dengan pelajar rajin yang sama sekali tidak berorganisasi.

Saat kedua event saya berlangsung, tidak mungkin tidak ada masalah yang datang. Tetapi bersama-sama dengan tim, saya bisa menyelesaikannya dengan hebat tanpa mengurangi wibawa dari panitia pelaksana. Capek memang, tetapi, tetap menyenangkan. Saya merasa bangga dengan diri saya karena berhasil memenuhi amanah-amanah ini.

Pokoknya, pesan saya, apapun yang kamu jalani dengan senang dan ikhlas, hasilnya pasti akan memuaskan bahkan saat kamu berpikir kemungkinan terburuknya. Nikmati semua prosesnya dan ciptakan ruang bahagia.

 

Kode Konten : KL010

Jawaban dari penulis akan masuk email kamu.

Your email address will not be published. Required fields are marked *