IPB University, Kedokteran Hewan

Kedokteran Hewan IPB University (Dwi)

Kedokteran Hewan IPB University (Dwi)

Halo sobat intipers! Aku Dwi Oktavianti, sekarang sedang mengenyam pendidikan profesi Kedokteran Hewan IPB University. Kali ini aku ingin sharing pengalaman kuliah ku dan memperkenalkan jurusan/prodi yang aku ambil. Bagi teman-teman yang mau bertanya atau diskusi, bisa komen di bawah artikel ini. Kalau sempat akan dibalas ya, jawabannya akan masuk ke email kalian kok. Pastikan kalian baca sampe beres dulu artikel ini sebelum bertanya.

Secara umum, jurusan Kedokteran Hewan IPB University itu seperti apa?

Saya dulu S1 di jurusan Kedokteran Hewan IPB juga tahun 2015. Kita mempelajari mata kuliah mengenai hewan, dan hewannya itu secara umum. Kemudian setelah sarjana, saya melanjutkan ke program profesi kedokteran hewan. Kalau di kedokteran itu biasa disebutnya itu koass.

Kedokteran hewan itu suatu keilmuan untuk mempelajari tentang hewan, baik itu dari penyakit hewannya, anatomi, fisiologis dan berbagai hasil olahan dari hewan. Kan kebanyakan dari hewan juga bisa menyebabkan penyakit ke manusia, kita belajar tentang itu. Kemudian, dipelajari Jung tentang hewan.

Apa yang jadi alasan masuk jurusan Kedokteran Hewan IPB University?

Dulu sebenernya asa pengen jadi dokter manusia, tapi saya lebih suka hewan jadi saya mencoba di kedokteran hewan. Ternyata hati kecil saya menuntun saya ke tempat yang luar biasa di sini yang membuat saya semakin jatuh cinta dengan profesi ini.

Apa mata kuliah dan tugas yang khas dari Kedokteran Hewan IPB University?

Tahun pertama di IPB ada namanya program pendidikan kompetensi umum, kita mempelajari mata kuliah seperti SMA, ada landasan matematika, biologi, kimia, dan sebagainya. Praktikumnya juga seperti waktu pas SMA.  Tingkat kedua kita udah masuk prodi, otomatis praktikumnya sesuai dengan mata kuliah yang diambil. Contoh, mata kuliah anatomi, kita akan belajar banyak, pertama belajar tentang tulang dulu sebagai penyusun dari hewan. Terus juga otot-otot yang menyusun, saraf-saraf yang menyusun tulang. Nanti di mata kuliah Fisiologi, kita belajar tentang fungsinya, kira-kira belajar kenapa hewan bisa bergerak, itu fungsinya seperti apa dan bagaimana. Lalu, di bidang farmako, itu  obat-obatan. Kita belajar hewan-hewan tertentu  bisa ditreatment dengan obat seperti apa, cara kerja obat, dan masih banyak lagi.

Selain di kampus, kita juga praktik di luar kampus. Kita buat program namanya Abdi Nusantara Masyarakat. Kita turun ke lapangan, membantu program dari dinas dalam bentuk vaksinasi, pelatihan, pembelajaran ke siswa-siswa SD. Misalnya kita melakukan penyuluhan ke masyarakat tentang rabies sebagai salah satu penyakit yang menular dari hewan.

Selama kita di S1 kita bisa belajar di lapangan dengan program magang dari himpunan. Jadi biasanya himpunan itu membuka kesempatan temen-temen S1 untuk magang di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Bisa di rumah sakit hewan, balai inseminasi buatan, kebun binatang sampai peternakan juga bisa.

Di antara banyaknya mata kuliah, yang saya favoritkan itu Bedah dan Radiologi. Itu mata kuliah yang membuat saya excited karena kita mempelajari cara membantu hewan itu untuk sehat kembali dengan prosedur pembedahan. Dari awal kita cari hewannya, kita mengecek hewannya, melakukan pembedahan sampai sembuh. Nah itu yang  membuat berkesan bagi saya. Lainnya, itu mata kuliah patologi, itu untuk pertama kali saya nekropsi, kalau di manusia itu namanya autopsi. Itu pertama kali saya nekropsi pada anjing untuk mencari kausa atau alasan hewan itu bisa mati.

Expo-PTN

Adakah konsentrasi atau kelompok keahlian di jurusan ini?

Kedokteran hewan itu kita mempelajari semua hewan. Kalau peminatan itu masuk ke himpunan, jadi kita belajarnya di luar pembelajaran di kelas. Ada himpunan minat profesi ruminansia itu belajar tentang hewan ruminansia, hewan kesayangan, satwa akuatik eksotik, satwa liar dan masih banyak lagi.

Apa saja jalur masuk untuk jurusan ini?

Pas S1 dulu saya masuk lewat SNMPTN, tapi selain SNMPTN bisa lewat jalur SBMPTN, jalur mandiri, jalur prestasi internasional, jalur beasiswa utusan daerah dan jalur ketua Osis. Setelah lulus saya langsung daftar untuk programa profesi. Ada persyaratan ijazah, tes TOEFL, tes kesehatan jasmani dan rohani dan lainnya. Nah, tapi untuk sarjana kedokteran hewan itu boleh kalau tidak lanjut ke profesi. Namun, nanti akan ada perbedaan, ketika menjadi sarjana kedokteran hewan kamu tidak boleh melakukan tindakan medis apapun terhadap hewan. Jadi dengan ikut profesi  ini  jadi cara untuk bisa melakukan tindakan medis terhadap hewan.

Ada tips buat mahasiswa baru jurusan ini?

Tipsnya adalah menikmati setiap proses yang ada, dan fakultas kedokteran hewan itu punya banyak tempat untuk menampung minat bakat. Jadi selain kamu belajar akademik, bisa juga belajar di bidang non akademik baik di seni atau olahraga, dengan itu bisa gak jenuh dan tetep semangat.

Bagaimana prospek kerja dari alumni jurusan ini?

Prospek kerjanya yang tidak ambil profesi bisa ke perusahaan atau dinas daerah tertentu. Bagi yang dokter hewan itu  prospeknya lebih banyak, bisa kerja di dinas, pusat karantina. Pasti bisa jadi dokter hewan di klinik, di kepolisian di direktorat polisi satwa. Menjadi peneliti juga bisa. Di perusahaan produk-produk  olahan hewan dan masih banyak lagi.

Q&A

  1. Lebih sulit mata kuliah FK atau FKH?

Perkara sulit atau mudah itu adalah persepsi, kalau dari saya sendiri karena itu hal baru pasti sulit. Ketika kita menikmati prosesnya dan tahu bagaimana alur belajarrnya maka hal sulit itu bisa jadi sesuatu yang mudah. Juga karena saya belum pernah masuk FK jadi saya gak bisa membandingkan antara FK dan FKH.

Kode konten:  C213

Komen dibawah! 2

  1. Syifa Vi

    kak, kalau boleh tahu nilai rata-rata rapot waktu ke S1 berapa ya? soalnya sebentar lagi kan pendaftaran snmptn, nah aku masih agak ragu dengan nilaiku. apakah berpeluang besar untuk ke fkh ipb atau tidak

    • dwiokta0197

      Hallo syifa, maaf baru membalas yaaa. Untuk rata rata rapor saat mau masuk di S-1 untuk saya sendiri 88. Namun pastinya preferensi tidak bisa digunakan untuk semua sekolah, karena juga tergantung dari akreditasi sekolahnya. Namun, apabila nilai Syifa mencukupi dan selalu stabil atau bahkan naik setiap semesternya, bisa Syifa pertimbangkan untuk mendaftar di IPB.

Jawaban dari penulis akan masuk email kamu.

Your email address will not be published. Required fields are marked *