Institut Teknologi Bandung, Teknik Dirgantara

Magister Teknik Dirgantara ITB (Program Fast Track) (Eka)

Magister Teknik Dirgantara ITB (Program Fast Track) (Eka)

Halo sobat intipers! Perkenalkan, nama saya Eka Oktavia Kurniati. Saya alumni sarjana dan magister Teknik Dirgantara ITB. Saya lulus S1 dan S2 pada tahun 2016 dan 2017. Saat ini saya bekerja sebagai asisten peneliti di Laboratorium Struktur Ringan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, ITB. Saya akan menceritakan pengalaman saya kuliah S2 di Teknik Dirgantara ITB hanya dalam kurun waktu 1 tahun. Penasaran, kan? Simak cerita berikut yuk!

Bagi teman-teman yang mau bertanya atau diskusi, bisa komen di bawah artikel ini. Kalau sempat akan dibalas ya, jawabannya akan masuk ke email kalian kok. Pastikan kalian baca sampe beres dulu artikel ini sebelum bertanya.

Bagaimana proses perkuliahan di program magister Teknik Dirgantara ITB?

Secara umum, program magister adalah jenjang pendidikan untuk mahasiswa yang ingin mendalami (spesialisasi) di bidang tertentu. Program magister Teknik Dirgantara ini diisi dengan proses perkuliahan seperti program sarjana. Yang dipelajari pun lebih bersifat spesifik. Kalau saat S1 mempelajari setiap aspek yang berkaitan dengan pesawat terbang secara umum, mulai dari kemampuan pesawat untuk bisa terbang (dari lepas landas sampai dengan mendarat), struktur pesawat, wahana terbang luar angkasa, pengendalian pesawat, sistem pada pesawat, perawatan pesawat terbang, model bisnis pesawat, dan di tahun ke empat akan ada mata kuliah perancangan pesawat terbang yang mengintegrasikan segala aspek pada pesawat terbang. Kalau S2 karena sifatnya spesialis jadi hanya mempelajari berdasarkan kelompok keahlian yang sudah dipilih.

Hal lain yang menjadi pembeda adalah jumlah SKS dan pendefinisian beban 1 SKS. Pada jenjang S1, total SKS yang harus diselesaikan adalah 144 SKS. Sedangkan pada jenjang S2 mahasiswa harus menyelesaikan 36 SKS. Wah, lebih sedikit ya? Betul, hanya saja definisi beban 1 SKS ini berbeda antara S1 dan S2. Satu SKS pada jenjang S1 setara dengan 3 jam belajar dalam seminggu selama satu semester yang meliputi 1 jam kuliah, 1 jam mengerjakan tugas, dan 1 jam membaca buku referensi. Sedangkan 1 SKS pada jenjang S2 setara dengan 5 jam belajar dalam seminggu selama satu semester yang meliputi 1 jam kuliah, 2 jam mengerjakan tugas, dan 2 jam membaca buku referensi. Jadi, tugas yang diberikan saat S2 akan lebih sulit dibanding tugas S1.

Tugasnya sebagian besar merupakan studi kasus, bukan lagi seperti saat S1 yang bisa dikerjakan dalam waktu 30 menit sebelum deadline pengumpulan tugas. Mahasiswa juga dituntut untuk membaca jurnal ilmiah untuk menunjang proses perkuliahan dan pengerjaan tesis.

Apa itu program fast track?

Program fast track adalah program percepatan studi S2 di kampus ITB. Umumnya mahasiswa S2 menyelesaikan studi S2 dalam waktu 2 sampai 3 tahun. Di program fast track ini, cukup setahun untuk bisa menyandang gelar master. Persyaratannya adalah harus mahasiswa ITB yang kuliah S1 di jurusan yang sama dengan jurusan S2, IPK di atas 3, dan telah menyelesaikan 108 SKS saat mendaftar program fast track. Saran saya, sebaiknya jangan mengulang banyak mata kuliah jika ingin mendaftar program fast track (FYI, saat S1 saya pernah mengulang satu mata kuliah yang berbobot 2 SKS).

Biasanya program fast track dibuka untuk mahasiswa S1 semester 5 atau 6 (mahasiswa mendaftar saat masih menjalani kuliah S1). Setelah diterima, mahasiswa akan mengambil beberapa mata kuliah S2 bersamaan dengan kuliah S1 dan akan ditransfer ke transkrip saat sudah terdaftar sebagai mahasiswa program magister. Contohnya, saya saat semester 7 dan 8 masing-masing sudah mengambil mata kuliah S2 sebanyak 6 SKS. Jadi selama S1 saya sudah menabung 12 SKS yang siap ditransfer saat sudah terdaftar sebagai mahasiswa program magister. Sehingga, saya punya sisa 24 SKS mata kuliah S2 yang akan saya selesaikan dalam satu tahun/dua semester setelah lulus sarjana.

Selain Teknik Dirgantara, ada juga jurusan lain di ITB yang membuka program ini. Program ini juga menyediakan beasiswa, jadi ketika kalian mendaftar fast track sudah sepaket dengan beasiswanya. Tapi beasiswa hanya menanggung uang kuliah selama satu tahun. Jadi pastikan teman-teman bisa lulus tepat waktu ya selama studi S2.

Mata kuliah yang ada di program magister Teknik Dirgantara ITB?

Mata kuliah yang diambil bisa berbeda-beda, tergantung kelompok keahliannya (untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di https://www.ftmd.itb.ac.id/kurikulum-aeronotika-astronotika-s2/). Tapi ada mata kuliah wajib yang harus diambil oleh mahasiswa di semua kelompok keahlian, yaitu Matematika Lanjut 1 dan Metodologi Penelitian. Terkadang perkuliahan diselenggarakan menggunakan Bahasa Inggris apabila di kelas ada mahasiswa asing, karena ITB seringkali menerima mahasiswa asing.

Mata kuliah favorit saya di program magister Teknik Dirgantara ITB?

Saya mengambil kelompok keahlian struktur ringan. Jadi, semua mata kuliahnya berkaitan dengan material dan struktur pesawat. Mata kuliah yang paling saya suka adalah Tenggang Cacat Struktur. Buat kalian yang ngefans dengan Bapak B.J Habibie, pasti tau julukan untuk beliau, yaitu Mr. Crack. Di mata kuliah ini, saya mempelajari tentang karakteristik suatu retakan khususnya pada pesawat. Dosennya juga seorang professor yang ahli di bidang retakan dan bisa dikatakan sebagai penerusnya Bapak B.J Habibie.

Kelompok keahlian yang tersedia apa saja?

Secara umum, di Teknik Dirgantara ITB terdapat 3 kelompok keahlian. Tapi untuk program magister dipecah kembali menjadi beberapa bagian:

  1. Fisika terbang dipecah menjadi:
  • Aerodinamika: Mempelajari tentang karakteristik fluida (karena pesawat bisa terbang karena adanya aliran fluida)
  • Mekanika Terbang: Mempelajari kendali pesawat saat terbang
  • Astronotika: Mempelajari desain roket dan satelit
  1. Struktur Ringan: Mempelajari desain struktur dan material pesawat supaya tetap kuat dan ringan
  2. Desain, Operasi, dan Perawatan Pesawat Terbang dipecah menjadi:
  • Desain: Mempelajari desain pesawat sesuai dengan kebutuhan terbangnya
  • Operasi dan Perawatan: Mempelajari metode pengoperasian dan perawatan pesawat terbang supaya tetap layak terbang
  • Propulsi: Mempelajari sistem propulsi (engine) pada pesawat dan roket

Kegagalan pada struktur landing gear pesawat penumpang jarak pendek untuk dianalisis penyebabnya sebagai salah satu tugas mata kuliah “Analisis Kegagalan: Metode dan Studi Kasus”

Tips untuk mahasiswa yang ingin/sedang melanjutkan studi Magister Teknik Dirgantara ITB?

Tips dari saya adalah pastikan teman-teman memilih kelompok keahlian yang sesuai dengan minat/skripsi yang teman-teman susun (berlaku untuk program regular maupun fast track). Untuk bisa mendaftar S2 Teknik Dirgantara tidak harus lulusan S1 Teknik Dirgantara loh. Beberapa teman saya ada yang lulusan S1 Teknik Mesin, Teknik Otomotif, dan Teknik Material.

Tips lainnya adalah membiasakan diri untuk membaca paper dan mulai mencari tau bagaimana teknik membaca secara efisien karena untuk mendapatkan suatu informasi dari paper, teman-teman tidak harus baca seluruhnya untuk mempersingkat waktu.

 Bagaimana prospek kerja untuk alumni S2 Teknik Dirgantara?

Untuk prospek kerja, hampir sama seperti lulusan S1 Teknik Dirgantara. Hanya saja teman-teman sudah punya spesialisasinya sendiri yang akan menjadi nilai plus saat melamar kerja. Apalagi jika teman-teman ingin bekerja di perusahaan aviasi di negara-negara maju yang rata-rata membutuhkan pendidikan minimal S2. Tetapi perlu diingat, ketika melamar kerja teman-teman sebaiknya memilih divisi kerja yang nyambung dengan kelompok keahlian saat S2. Misalnya, teman-teman saat S2 memilih program studi struktur ringan lalu melamar pekerjaan sebagai structural engineer.

Uniknya di Teknik Dirgantara, teman-teman tidak harus bekerja di perusahaan aviasi. Contohnya tadi ingin melamar pekerjaan sebagai structural engineer. Di perusahaan otomotif, konstruksi, oil and gas juga bisa, karena tugasnya adalah menganalisis kekuatan struktur akibat beban yang bekerja. Yang punya struktur kan tidak hanya pesawat. Mobil, kereta, jembatan, pipa gas juag punya struktur yang harus dianalisis supaya tidak rusak. Jika ingin bekerja di perusahaan/divisi di luar kelompok keahlian teman-teman, pastikan teman-teman memilki keahlian lain yang diperlukan saat melamar kerja.

Bagaimana rencana dan harapan saya setelah lulus?

Saat ini saya sedang persiapan untuk mendaftar S3 di luar negeri. Saya bercita-cita ingin menjadi dosen dan peneliti. Saya berusaha melakukan penelitian sebanyak-banyaknya agar peluang mendapatkan kampus dan beasiswa impian lebih besar. Setelah lulus S3, saya ingin mencari kesempatan untuk post-doctoral research di negara maju karena proses pengajuan risetnya tidak serumit di Indonesia. Setelah saya dirasa cukup berpengalaman dalam penelitian, saya akan kembali ke Indonesia dan mengimplementasikan apa yang sudah saya pelajari selama S3.

Kode konten: X354

Comments 5

  1. VERTI LOVINO

    Bagaimana sih kak, supaya IP kita tidak menurun di prodi teknik dirgantara

    • ekaoktaviak

      Halo. Tips supaya IP tidak menurun adalah mengatur kuliah apa saja yang ingin diambil di setiap semester. Pilih kuliah yang terasa berat untuk dijalani (bisa dilihat di silabus nya) di awal-awal semester, selagi belum disibukkan hal-hal yang menghabiskan waktu banyak misalnya tugas akhir, kalau di penerbangan nanti akan ada tugas perancangan di semester 7. Selain itu, pastikan motivasi belajar kita tetap ada.

  2. han

    kalo waktu s2 dirgantara ada kegiatan non akademiknya gak ya, dan pergaulannya bagaimana ya? boleh ceritain dong kak pengalamannya

    • ekaoktaviak

      Kalau untuk kegiatan non-akademik dari jurusan (misalnya himpunan mahasiswa) itu tidak ada. Kalau ingin mengikuti ekstrakurikuler atau komunitas, masih boleh untuk mengikuti unit kegiatan mahasiswa yang ada di ITB (mendaftar saja pada saat acara Open House Unit). Ada juga unit kegiatan mahasiswa untuk pascasarjana, misalnya saya ikut KAMIL Pascasarjana (seperti unit Keluarga Mahasiswa Islam, tapi untuk pascasarjana). Saya juga aktif ikut kegiatan ekstrakurikuler di luar kampus.

      Untuk pergaulan, karena mahasiswa S2 ini sedikit jumlahnya dan selalu sekelas, jadi kami cukup dekat dan sering sekali belajar bersama. Memang jumlah temannya tidak akan sebanyak ketika S1, tapi saya merasa lebih dekat dengan teman saat S2 dibanding saat S1.

  3. Hizkya Sitorus

    Halo kak,saya mau tanya apakah disetiap jurusan/fakultas terdapat program fast track?

Yuk, komen disini untuk bertanya ke penulis. Jawaban akan dikirim ke email kamu

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar